Pemuridan Mendalam pada Era Digital: Memikirkan Ulang Gereja, Pelayanan, dan Kehidupan Bersama di Dunia Daring

Revolusi pada hakikatnya bersifat merusak dan mengguncang. Revolusi meruntuhkan hal-hal lama lalu mendirikan lembaga dan jaringan baru sebagai gantinya. Revolusi membawa konflik. Revolusi menginjak-injak hal-hal yang dahulu dianggap sakral dan mengangkat gambar serta ikon baru sebagai objek penghormatan publik. Revolusi dapat membawa kelegaan sekaligus bencana. Namun, yang terutama, revolusi mengubah keadaan. Revolusi menimbulkan guncangan besar dan menciptakan kenormalan baru yang begitu cepat menjadi biasa sehingga kita hampir tidak lagi mengingat seperti apa keadaan sebelumnya.

Perhatikan beberapa contoh berikut.

Penemuan mesin cetak membawa perubahan besar. Penemuan ini mengubah cara kita menyimpan dan menyebarkan pengetahuan. Penemuan ini juga melahirkan budaya literasi baru dengan peluang dan risiko yang baru.

Penemuan mobil membawa perubahan besar. Mobil memperluas kemampuan kita untuk bepergian. Kita tidak lagi terikat pada desa, tetapi dapat bergerak di dalam kota maupun antarkota. Perkembangan ini juga membuat keluarga inti semakin berjauhan dari keluarga besar. Selain itu, mobil mendorong lahirnya industri-industri baru sekaligus memunculkan masalah baru terkait keselamatan di jalan dan polusi.

Perjalanan udara juga membawa perubahan besar. Perkembangannya membuat perjalanan nasional dan internasional semakin terjangkau. Perjalanan udara mengubah peperangan modern dan menciptakan dunia baru dengan membuat jarak terasa semakin dekat.

Kehadiran internet dan menjamurnya perangkat digital pribadi juga membawa perubahan besar. Perkembangan ini mengubah dunia dalam banyak hal, mulai dari cara kita membeli dan menjual barang hingga cara kita bekerja, membayar tagihan, mendengarkan musik, belajar bahasa, dan berkomunikasi dengan keluarga. Revolusi digital telah menciptakan ruang virtual baru dengan segala peluang dan risikonya bagi semua orang. Faktanya, orang sekarang seolah hidup melalui ponsel mereka. Mereka menonton tayangan televisi di hampir semua perangkat, justru bukan di televisi. Kehidupan profesional dan pribadi mereka berlangsung sebagian, bahkan terutama, dalam ruang digital. Lantas, mengapa kehidupan rohani mereka harus berbeda?

Inserted image

Selain itu, pembatasan selama COVID mempercepat revolusi digital. Banyak dari kita dahulu diberi tahu bahwa bekerja dari rumah tidak mungkin, tidak praktis, tidak dapat dilakukan, atau tidak layak. Namun, karena COVID, banyak dari kita akhirnya bekerja dari rumah selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Ternyata bekerja dari rumah itu mungkin, praktis, dapat dilakukan, dan layak -- lalu menjadi hal yang biasa. Dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang.

Salah satu dampak yang jelas adalah bahwa sejak COVID, banyak orang tidak kembali beribadah di gereja secara langsung. Sebaliknya, mereka lebih suka menjelajahi berbagai gereja secara daring dengan menonton siaran langsung dari banyak gereja. Ada pula yang mendapatkan khotbah mingguan dari sebuah gereja besar melalui podcast. Seberapa pun kita mengeluh tentang hal ini, perubahan tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang dan tampaknya tidak akan segera mereka tinggalkan.

Revolusi digital sebenarnya sudah berkembang secara perlahan. COVID mempercepatnya, tetapi bukan titik awalnya. Gereja dan lembaga pelayanan sudah lama mengalokasikan sumber daya untuk internet -- mulai dari membuat situs web sederhana, memiliki saluran YouTube, mengubah khotbah menjadi berkas MP3, mengelola podcast, aktif di media sosial, hingga mengelola grup percakapan privat. Namun, sebesar apa pun dampaknya, semua itu umumnya hanya menjadi pelengkap pelayanan tatap muka dan pelayanan di lokasi fisik. Pembatasan COVID pada 2020 -- 2022 membuat hal-hal yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap tiba-tiba menjadi sarana utama, bahkan satu-satunya bentuk pelayanan Kristen yang dapat dilakukan dan/atau diterima banyak orang.

Istri saya melayani anak-anak di gereja kami. Ketika pembatasan akibat COVID diberlakukan, dia harus mencari cara menjalankan pelayanan anak secara daring. Seperti banyak orang lain, dia harus belajar dengan cepat cara menulis, merancang, merekam, menyunting, dan membagikan materi video untuk anak-anak di bawah usia dua belas tahun. Dia seolah menjadi Steven Spielberg bagi video-video Sekolah Minggu. Dia juga mencari cara untuk tetap terhubung dengan anak-anak, mengirimkan perlengkapan kerajinan tangan, dan mengatur waktu bermain bersama ketika situasi sudah cukup aman.

Saya adalah dekan akademik dan profesor studi Alkitab di sebuah seminari. Selama masa pembatasan, saya dan rekan-rekan harus mencari cara menjalankan seminari sepenuhnya secara daring tanpa pertemuan tatap muka. Bagaimana kami dapat beribadah bersama sebagai sebuah komunitas? Bagaimana kami membimbing para mahasiswa? Kami harus membuat sumber daya dari awal, menjaga proses belajar-mengajar tetap berlangsung, memasarkan seminari dan merekrut mahasiswa, memenuhi persyaratan akreditasi yang terus berkembang, serta memantau kesehatan mental para dosen, staf, dan mahasiswa.

Saya menduga banyak orang sudah menanyakan hal ini kepada diri sendiri: apa dampak revolusi digital dalam jangka panjang? Bagaimana kita membangun pemuridan dalam dunia yang dipenuhi metaverse, layanan streaming, dan platform media sosial yang seolah tidak ada habisnya? Bagaimana kita menjalani kehidupan bergereja ketika hadir secara fisik di gereja hanyalah sebuah pilihan, bukan keharusan?

Kita dapat berakhir dengan memperlakukan gereja sekadar sebagai pertemuan daring mingguan para teman Facebook Yesus.

Kita perlu melakukan introspeksi dan refleksi karena berbagai perubahan ini baru saja dimulai. Karena itu, kita perlu memikirkan secara mendalam eklesiologi, yaitu doktrin tentang gereja, dengan mempertimbangkan seluruh peluang dan tantangan yang hadir pada era digital. Jika kita tidak memikirkan persoalan ini secara sungguh-sungguh dan menyeluruh, kita akan mudah terpaku pada jawaban-jawaban yang dangkal, mengikuti tren sesaat, ikut arus, semata-mata pragmatis, dan berpandangan pendek terhadap pertanyaan-pertanyaan sulit. Atau, kita dapat berakhir dengan memperlakukan gereja sekadar sebagai pertemuan daring mingguan para teman Facebook Yesus.[1]

Era digital membutuhkan eklesiologi yang jelas dan kokoh untuk memahami hubungan antara ruang fisik, ruang digital, dan tubuh Kristus.

Bagaimana Keadaan Telah Berubah

Ada beberapa perubahan akibat revolusi digital, yang dipercepat oleh pembatasan selama COVID, dan masih kita rasakan hingga sekarang.

1. Mencari gereja seperti menelusuri Amazon.com

Seorang rekan saya sedang mencari gereja baru. Dengan polos, saya mengira dia mengunjungi gereja yang berbeda setiap hari Minggu untuk menemukan gereja yang tepat bagi dirinya dan keluarganya. Ternyata sama sekali tidak. Dia mencari gereja dengan memeriksa saluran YouTube mereka, melihat ibadah mereka, dan meneliti situs web mereka. Mencari gereja sekarang seperti berbelanja sepatu secara daring!

2. Akses internasional

Jika Anda dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, seluruh dunia berbahasa Inggris terbuka bagi Anda. Fakta menarik: Sydney, Australia, merupakan kota dengan pembaca artikel The Gospel Coalition terbanyak. TGC memperoleh lebih banyak kunjungan dari Sydney dibandingkan kota lain mana pun di dunia. Kota-kota seperti London, Singapura, Bogotá, dan Mexico City juga termasuk pembaca utama artikel-artikel TGC. Bahasa Inggris ditambah media sosial berarti Anda memiliki audiens internasional di ujung jari. Dari kantor gereja di kota kecil seperti Boise, Idaho, atau Bismarck, North Dakota, Anda pun dapat memiliki jangkauan internasional. Saya sendiri menulis artikel ini dari pinggiran Melbourne, Australia, sementara sebagian besar pembacanya akan berada di Amerika Serikat, Inggris, dan Asia Tenggara!

3. Hibrida adalah kenormalan baru

Kehidupan Kristen dan keterlibatan kita dalam gereja kini berlangsung melalui berbagai perjumpaan fisik dan interaksi digital. Kita mengatur jadwal pelayanan melalui dokumen bersama, memberikan persembahan melalui debit otomatis, dan mengadakan pertemuan secara tatap muka maupun melalui Zoom. Ya, kita tetap berkumpul untuk ibadah mingguan. Masih ada pendalaman Alkitab secara tatap muka, kegiatan anak dan pemuda, serta pelayanan belas kasih yang membutuhkan kehadiran langsung. Namun, unsur digital sekarang menjadi bagian dari kehidupan itu -- bagian dari lanskap pelayanan dan kehidupan komunitas. Perangkat digital dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk membangun komunitas.

4. Siaran langsung telah menjadi hal biasa

Gereja saya sekarang menyiarkan secara langsung semua ibadah. Dahulu kami tidak pernah melakukannya. Hal ini merupakan dampak langsung dari COVID. Artinya, jika saya sakit di rumah, sedang berlibur, atau bepergian untuk urusan pekerjaan, saya tetap dapat menyaksikan gereja saya beribadah dan bahkan ikut berpartisipasi dari jauh. Cara ini belum tentu ideal, tetapi membantu saya tetap terhubung dengan keluarga gereja ketika saya tidak dapat hadir secara langsung.

5. Penggembalaan dapat dilakukan secara digital

Bertahun-tahun yang lalu, seorang pendeta berpengalaman mengatakan kepada saya bahwa 80 persen pelayanan pastoral dapat dilakukan melalui telepon. Saya kira hal yang